Tradisi Basasuluh Banjar: 3 Tahapan Pelaksanaan

3–4 minutes

Dalam tradisi basasuluh Banjar dimaksudkan kepada seorang laki-laki untuk menggali informasi dan kecocokan dari tetua kampung tentang calon istrinya nanti.

Tradisi yang kini punya tantangan kompleks karena perubahan zaman ini punya hal yang menarik untuk kita ketahui.

Terlebih, tradisi Banjar satu ini merupakan tradisi yang akan membantu mencari seorang pasangan yang tepat.

Tepat secara agama, silsilah keluarga, aspek ekonomi, dan sosial budayanya.

Berlaku bagi mereka yang masih menjaga tradisinya, basasuluh ialah tradisi untuk mencarii informasi sedalam-dalamnya terhadap calon pasangan.

Nah, bagaimana tradisi ini diterapkan?

Yuk, simak uraian singkatnya di bawah ini!

Baca Juga: Kebudayaan Suku Banjar: Berikut 5 Contohnya

Apa itu tradisi basasuluh Banjar?

Secara etimologis, basasuluh berasal dari kata suluh yang berarti obor atau alat penerang.

Masih dalam tradisi upacara pernikahan, tradisi ini bertujuan untuk menggali informasi seorang gadis yang akan dipinang.

Informasi yang dicari berupa aspek kehidupan seorang gadis dan asal usul keluraganya melalui tetua kampung.

Pada pelaksanaannya, tadisi basasuluh yang dijalankan dari pihak laki-laki terdiri dari beberapa tahapan seperti di bawah ini.

Mencari tetua kampung

Pencarian tetua kampung dari kampung lelaki dan perempuan yang akan dipinang punya tujuan sebagai penasihat pernikahan.

Seorang laki-laki yang akan meminang gadis akan mencari tetuha kampung melalui infomasi dari perangkat desa.

Umumnya tetua kampung yang mereka maksud ialah seorang yang paham terhadap lingkungannya dan punya ilmu kebatinan.

Pasalnya, tetua kampung akan memberikan berbagai saran pernikahan termasuk menghitung nama dari masing-masing calon.

Serta juga sebagai orang yang akan berbicara pada acara pertemuan dari kedua keluarga yang mempunyai hajat.

Bapara

Tahapan selanjutnya dalam tradisi basasuluh Banjar ialah bapara.

Bapara adalah kunjungan pihak keluarga laki-laki ke tetua kampung bersama perangkat desa.

Ketika berkunjung kepada tetua, pihak keluarga laki-laki menyampaikan maksud dan tujuannya. Terutama untuk mendapatkan informasi dari pihak gadis yang dimaksud. 

Baca Juga: Badudus Adat Banjar: Perlengkapan Mandi & Makna Simbolik

Tuntung pandang

Terakhir pada tahapan tradisi basasuluh ialah tuntung pandang.

Tuntung pandang punya tujuan untuk menanyakan kondisi seorang gadis, keluarga, dan kehidupannya kepada pihak keluarga dan tetangganya.

Tetua kampung adalah orang yang dipercaya atau mewakili untuk mencari informasi seorang gadis yang akan dipinang oleh pihak laki-laki.

basasuluh adat banjar
Basasuluh Adat Banjar | Berita Banjarmasin

Setelah mendapatkan informasi, tetua kampung akan mencari kecocokan dari keduanya.

Pencocokan ini juga ada yang menyebut sebagai babilangan.

Pada babilangan, tetua kampung menghitung nama dari pihak laki-laki dan perempuan berdasar rumus tertentu.

Agar bisa melakukan penghitungan nama, maka nama dari yang semula huruf latin dirubah ke huruf arab.

Kitab Tājul Muluk karya Syekh Ismail bin Abdul Muthalib adalah rujukan utama dalam menghitung nama untuk mencari kecocokan.

Apabila hasil perhitungan cocok maka tahapan pernikahan bisa berlanjut dengan lebih lancar.

Namun, jika perhitungan tidak menemukan kecocokan akan terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan.

Nah, hal inilah yang kadang jadi momok memberatkan pada tradisi basasuluh Banjar.

Baca Juga: 4+ Ciri Khas Suku Melayu

Kelengkapan tradisi

Sudah seperti tradisi pinangan, pada tradisi ini pihak keluarga laki-laki yang datang ke keluarga perempuan membawa berbagai macam jajanan.

Jajanan yang dibawa juga melambangkan keinginan dari keluarga laki-laki yang akan menikahi seorang gadis.

Karenanya jajanan khas melayu Banjar yang umum ada di upacara pernikahan seperti wadai cincin dan wadai sari muka lakatan.

Selain jajanan khas, pihak keluarga laki-laki juga sudah menyiapkan uang jujuran jika nanti dari pihak keluarga perempuan menanyakan.

Sebagai bentuk penghormatan atas tamu yang datang, biasanya pihak keluarga perempuan juga menyiapkan wadai cincin.

Nah itulah uraian tradisi basasuluh Banjar yang kini kian tergerus oleh tradisi.

Namun, juga ada pertentangan karena memberatkan pihak keluarga jika hasil babilangan tidak cocok.

Walau pihak laki-laki sudah merasa pas dengan kriteria yang diharapkan.

Seiring perkembangan teknologi, tradisi yang tujuannya untuk lebih mengenal pihak perempuan dan keluarganya ini mulai tergantikan.

Baca Juga: 7 Makanan Adat Banjar untuk Berbagai Acara

Referensi:

  • Budaya Basasuluh: Penjajakan Awal Orang Banjar Sebelum Menuju Pernikahan | Radar Banjarmasin
  • Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory
  • Jurnal Hukum dan Syariah UIN Malang
Adha Susanto
Adha Susanto

Doing Something Meaningful

Articles: 42