4 Modal Politik Sultan Banjar: Penerapan Teori Bourdieu

2–3 minutes

Dari teori modal politik Piere Bourdieu, wajar jika seorang Sultan Banjar merupakan seorang politikus yang sukses.

Pernah menjabat sebagai Bupati dua periode dan menjadi anggota DPR adalah bukti kesuksesan Sultan dalam berpolitik.

Dibalik kiprah suksesnya sebagai seorang politikus, Sultan Banjar ialah seseorang yang punya modal politik kuat, modal sosial adalah salah satunya.

Berdemokrasi tidak hanya soal tekad. Ada banyak yang harus kita persiapkan untuk bersaing di panggung politik dalam memperebutkan kursi kepemimpinan daerah.

Piere Bourdieu membagi modal politik dalam berbagai jenis yakni, ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik.

Nah, apa saja contoh dari setiap jenis model politik pada teori yang digagas oleh Bourdieu tersebut?

Yuk, simak uraiannya di bawah ini!

Baca Juga: 3 Kesenian Daerah Banjar yang Kian Redup Karena Zaman

Teori modal politik Piere Bourdieu

Seorang politikus yang punya kekuatan secara ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik tentu tidak akan sulit untuk memenangkan kontes pemilihan kepala daerah.

Di negara demokrasi seperti Indonesia sendiri kekuatan modal politik sangatlah menentukan.

Misalnya, Sultan Banjar. Sultan punya kekuatan dan pengaruh yang begitu besar terhadap masyarakat dan sosial budaya yang ada di daerahnya.

Kalau dilihat dari berbagai jenisnya, Sultan Banjar punya empat jenis modal politik tersebut.

Modal Ekonomi

Dalam berpolitik tidak lepas dari kebutuhan uang atau materi untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat luas.

Ada biaya untuk kampanye baik secara digital atau pun secara langsung dengan baliho dan orasi di depan pendukung.

Bukan hanya biaya kampanye saja, seorang politikus juga menyewa konsultan politik untuk mengatur strategi untuk memenangkan pilkada.

Modal Simbolik

Kalau berbicara soal simbolik, tentu seorang sultan sudah sangat kenamaan di masyarakat. Terlebih, sejarahnya yang besar juga memiliki pengaruh kuat di Kalimantan Selatan dan Tengah.

Sebagai seorang yang masih berada pada garis pemimpin kerajaan di Kalimantan, sultan tidak hanya berpengaruh secara budaya.

Namun, pengaruhnya sebagai seorang sultan punya pengaruh kepercayaan kepada masyarakat.

Modal Budaya

Tidak hanya bagian dari keluarga kerajaan Kesultanan Banjar, Sultan ialah seseorang yang punya pendidikan, pengalaman, atau keterampilan.

Sultan punya bukti kerja yang nyata dengan pembangunan-pembangunan yang ada di daerah.

Modal Sosial

Terakhir, modal sosial. Lingkaran kerajaan Islam di Kalimantan dan keluarga kerajaan kesultanan Banjar merupakan modal yang besar.

Tidak heran jika seorang Sultan yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah punya persentase kemenangan yang tinggi.

Luasnya hubungan kerajaan memberikan dukungan yang besar untuk berpolitik.

Belum lagi kalau seorang Sultan punya jaringan dari luar kerjaan seperti jaringan pengusaha di Kalimantan.

Jadi, kalau seorang Sultan mencalonkan kepala daerah persentase kemenangannya memang sangat besar.

Sultan punya modal ekonomi yang memberinya daya dorong lebih, modal sosial dari keluargaan kerajaan Islam di Kalimantan memperluas jangkauan.

Sedangkan modal budaya menunjukkan kemampuan, dan modal simbolik membangun citra yang melekat di hati masyarakat.

Baca Juga: 7 Makanan Adat Banjar untuk Berbagai Acara

Sumber:

Adha Susanto
Adha Susanto

Doing Something Meaningful

Articles: 43