Sukamara Sulit Dapat Bahan Bakar, Warga Bingung Cari Kemana Lagi

4–6 minutes

Sejumlah daerah di Kalimantan Tengah, dan salah satunya adalah Sukamara sulit dapat bahan bakar hingga kini. Di SPBU antreannya mengular, di pedagang eceran juga kosong, lalu disuruh cari kemana?

Di tengah sulitnya untuk mendapat udara bersih seperti sedia kala, masyarakat Sukamara juga kian sulit mendapat bahan bakar untuk mencari nafkah.

Pertamax dan Pertalite adalah dua jenis minyak yang paling banyak diburu, karenanya kalau ada di SPBU antreannya juga luar biasa panjang.

Dua sampai tiga kali ke SPBU belum tentu dapat bahan bakar. Pasalnya, sering kali SPBU tutup karena sudah kehabisan stok dan dalam perjalanan ke Sukamara.

Kalau pun sudah ada, beeh antrenya bikin geleng-geleng kepala.

Tapi, di daerah lain, misalnya Pangkalan Bun yang penduduknya lebih ramai justru lebih mengerikan.

Tidak kuat mental, maka putar balik. Mencari di pedagang eceran pinggir jalan saja belum tentu dapat.

Demikian pula yang terjadi di Sukamara sekarang ini.

Masyarakat susah sekali untuk memperoleh bahan bakar. Jangankan dengan harga terjangkau, harga mahal pun belum tentu ada.

Dampak untuk warga Sukamara sulit dapat bahan bakar

Susahnya dapat bahan bakar sudah pasti berdampak ke berbagai sektor. Mereka yang sehari-harinya bekerja dengan bantuan tenaga mesin akan jauh lebih tertekan.

Untuk perjalanan ke tempak bekerja saja barangkali sudah terasa susah.

Terlebih bagi mereka yang juga merokok, pasti ada dilema antara membeli rokok yang sudah pasti dapat, atau membeli minyak yang belum tentu dapat.

Bisa saja nanti ada pengendara motor yang kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan tapi masih bisa merokok.

Nelayan Sukamara

Bagi nelayan Sukamara, sulit dapat bahan bakar membuat harga bahan bakar di daerah pesisir juga naik tajam.

Bahkan ada yang rela mempertaruhkan performa mesin karena solar harus dicampur dengan oli bekas untuk menekan biaya produksi.

Belum lagi, gelombang laut di musim tenggara sekarang ini terbilang tinggi. Tidak banyak nelayan yang juga mampu untuk pergi melaut.

Hasil tangkapan yang tidak pasti akan menambah biaya operasional satu kali trip, bahkan tidak bisa menutupinya.

Di perairan sungai dan danau, aktivitas penangkapan ikan juga sulit untuk mendapatkan hasil maksimal. Air surut memaksa perahu mereka kandas. Bahan bakar yang dibutuhkan juga jadi lebih tinggi.

antrean panjang di spbu sukamara
Antrean Panjang di SPBU Sukamara

Belum lagi sulitnya mendapat bahan bakar solar atau pertalite yang sesuai kebutuhan dari pihak penyedia.

Sehingga tidak sedikit nelayan yang akhirnya harus sabar menunggu dan mengumpulkan bahan bakar sejumlah 20 hingga 30 liter dalam satu minggu.

Padahal kebutuhan keluarga selalu ada setiap harinya, tapi nelayan tidak bisa pergi menangkap ikan karena belum dapat bahan bakar yang mencukupi.

Jasa antar paket ibu-ibu

Penyedia jasa antar paket juga korban akibat dari daerah Sukamara sulit dapat bahan bakar.

Banyak paket yang seharusnya bisa mereka antar hari ini, namun tertunda karena tangki bahan bakar motor sedang kosong.

Ibu-ibu yang udah menanti pun bisa saja risau karena paketnya yang tak kunjung tiba. Padahal, itu paket memang sudah dinanti-nanti sekali.

Petani sawit Sukamara

Angkutan tanda buah segar kelapa sawit milik pengusaha pengepul sawit atau veron bisa saja parkir di veron karena tangkinya kosong. Kalau pun ada bahan bakarnya, petani sawit akan mendapat pukulan yang lebih lagi.

Biaya angkut bisa naik karena sulitnya mendapat bahan bakar akan jadi beban bagi petani sawit.

UMKM terancam

Sukamara sulit dapat bahan bakar juga bisa mengancam geliat UMKM.

Pasalnya, mereka juga butuh bahan bakar untuk bisa cari bahan atau kelengkapan barang atau bahan jualannya.

Selain itu, pembeli atau konsumen juga tidak menutup kemungkinan akan menahan uangnya.

Mereka harus berhemat untuk berburu bahan bakar, selain karena memang ada pun juga mahal (beli di pengecer).

Harapan dan doa warga Sukamara

Pada dasarnya bahan bakar jadi salah satu faktor produksi yang punya pengaruh besar di perekonomian daerah.

Jika bahan bakar ini naik karena ketersediaannya yang tidak cukup untuk warga, maka akan berdampak pada berbagai sektor mata pencaharian warga.

Kalau pun sudah ada, antrian yang begitu panjang untuk mendapat pertalite juga sebenarnya mengorbankan satu faktor produksi lainnya, waktu.

Ya, waktu, mengapa begitu penting dalam faktor produksi?

Antre Bahan Bakar di SPBU Sukamara
Antre Bahan Bakar di SPBU Sukamara

Waktu bukanlah sebuah barang yang bisa kita beli atau kita ulang.

Waktu itu ada dalam diri kita sendiri bagaimana menggunakannya. Ada yang memang diprioritasin dan ada juga yang gak harus diprioritasin.

Tergantung kebutuhan. Kalau memang prioritasnya untuk dapat bahan bakar murah itu memang sudah pilihan.

Tapi, ada konsekuensinya yang juga harus kita terima, yakni waktu yang terbuang untuk dapat sesuatu yang lebih murah.

Padahal dengan waktu segitu panjang, kamu udah bisa banyak hal yang bisa dilakuin.

Udah dapat satu ton sawit yang bisa kamu panen daro kebunmu sendiri. Lalu, kamu beliin ke minyak dengan kualitas yang bagus.

Di lain cerita, susahnya mendapat bahan bakar di Sukamara ada yang bisa manfaatin untuk bisa raup keuntungan maksimal.

Pasalnya, memang itu yang ia lakuin sepanjang hari untuk bisa dapat penghasilan dari bahan bakar.

Tidak juga kita salahin, asal bahan bakar yang sudah sulit didapat itu tidak keluar aja dari Kabupaten Sukamara.

Jadi, kerjasama dan pengertiannya untuk terus menjaga stok bahan bakar di Sukamara harus kita jaga.

Ya, semoga saja, ketersediaan bahan bakar kita perlahan mulai membaik.

Jika jalur distribusinya yang terganggu, misal kapal-kapal yang angkut bahan bakar ke Kalimantan Tengah itu sulit masuk ke muara, semoga hujan lekas turun.

Agar muara tidak surut-surut amat dan bisa memperlancar kapal masuk ke sungai, lalu bongkar ke tempat penampungannya.

Itulah beberapa dampak dari Sukamara sulit dapat bahan bakar dan harapan kedepannya.

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Kalimantan: Penyebab dan Dampak

Adha Susanto
Adha Susanto

Doing Something Meaningful

Articles: 44