Musim kemarau panjang ini memang menciptakan kewaspadaan yang luar biasa. Kekeringan akan membuat kesulitan itu makin menjadi pada saat asap masih terus menyelimuti di setiap sudut ruangan di musim kemarau panjang.
Status kekeringan awas ini memang sudah dikeluarkan untuk di sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah oleh BMKG.
Kabupaten Sukamara, Palangkaraya, Kotawaringin Barat, Katingan, Kapuas adalah daerah-daerah menjadi wilayah kekeringan meteorologi tingkat awas.
Semua daerah ini masih belum usai melawan api yang membakar hutan dan lahan.
Asap dan debu masih merajalela. Pukul lima sore biasanya masih terang, sekarang sudah terasa seperti jam setengah enam sore.
Langit biru dan putih yang biasa berkuasa itu kini sudah semakin sulit untuk bisa menampakkan diri.
Mentari yang biasanya menciptakan lembayung itu kini sudah menjadi semakin orange menuju merah karena berselimut asap.
Air yang katanya dikuasai negara perlahan akan sulit untuk ditemukan manusia dan hewan di sekitarnya.
Bahkan air yang katanya memenuhi baku mutu air minum karena dikelola oleh perusahaan daerah air minum itu tidak lagi mampu menjamin kualitasnya.

Air PDAM yang sumbernya dari sungai kini menjadi payau.
Panas yang kuat memang mengurangi debit air sungai. Sehingga ketika air laut pasang, maka kadar air sungai akan sedikit mengandung garam terlarut.
Baca Juga: Sukamara Sulit Dapat Bahan Bakar, Warga Bingung Cari Kemana Lagi
Dampak musim kemarau panjang
Di saat daerah sedang sulit secara anggaran karena keuangan semuanya diatur secara terpusat oleh pemerintah pusat, saat itu pula daerah semakin sulit dengan banyaknya bencana ekologis.
Masyarakat semakin terhimpit, kekuatan uang daerah juga sulit.
Abai terhadap bencana kekeringan akan menjadi bom waktu tersendiri di setiap daerah. Rakyat akan menjerit.
Pasalnya, air sudah menjadi kebutuhan dasar hidup kita di mana pun itu berada.
Untuk aksi mitigasi dan membangun kesadaran masyarakat agar bijak menggunakan air memang langkah strategis yang bisa kita terapkan dari sekarang.
Menjaga sumber air dari pihak-pihak yang secara sengaja memanfaatkan kesempatan di musim kemarau membutuhkan kerjasama yang baik.
Jangan sampai kita menjadi target pasar penjualan air bersih di tengah sulitnya keadaan ekonomi, kebijakan pemerintah, dan lingkungan saat ini.
Mengingat banyak negara-negara Afrika dan negara yang miskin dan sulit air itu hingga sekarang menjadi target pasar dari lembaga-lembaga internasional.
Parahnya lembaga itu memang terlihat sangat kredibel, tapi ternyata ada sebuah peluang bagi mereka yang berkuasa untuk menyedot sebanyak-banyaknya keuntungan dari keadaan ekologis mereka.
Sehingga air bersih menjadi sebuah barang yang bernilai layaknya emas. Kalau emas tidak semua orang membutuhkannya.
Dan mungkin salah satu solusi untuk mengatasi daerah-daerah yang sekarang sudah krisis air dan terlebih di daerah pesisir adalah menghadirkan teknologi pengolahan air.
Kalau air sungai yang sekarang sudah payau itu masih bisa diolah dengan teknologi desalinasi yang sudah banyak dikembangkan dan diproduksi dalam negeri.
Besar harapan kami untuk pemerintah pusat juga memetakan daerah-daerah dengan tingkat kekeringan tinggi ini agar dikirimkan teknologi desalinasi itu.
Setidaknya teknologi tersebut bisa menyuplai kebutuhan air minum dan kebutuhan memasak sehari-hari untuk keluarga.
Kita tidak ingin kekeringan ini tanpa ada mitigasi dan penanganan baik dari pemerintah.
Sinergi antara masyarakat dan pemerintah perlu dibangun untuk bisa hadapi permasalahan akibat kemarau yang masih terjadi dalam kurun waktu yang tidak singkat.
Setidaknya daerah-daerah pesisir yang sudah terdampak mendapat prioritas penanganan.
Serta kita berharap juga agar hujan akan turun baik itu melalui operasi modifikasi cuaca atau secara alami.
Walau BMKG masih memprediksi Kalimantan Tengah di bulan Oktober masih belum turun hujan.
Harap-harap cemas petani palawija juga makin meninggi. Ancaman gagal panen karena kering dan panasnya tanah membuat akar-akar tanaman jadi engap.
Hasil panen kian menyusut, singkong mengurus, cabai mengkerut, dan terong kering.
Rumput hijau susah dijumpai, sapi yang mengemo dan kambing mengembe karena lapar akan bertambah keras untuk memanggil tuannya mencarikan makan.
Baca Juga: Kebakaran Hutan di Kalimantan: Penyebab dan Dampak
Referensi:
- Bue Gold: perampasan dan komersialisasi sumber daya air







