Tradisi Baayun Maulid Masyarakat Banjar

Estimated reading time: 3 minutes

Bagi masyarakat Banjar, tujuan utama tradisi baayun maulid ialah sarana silaturahmi dan memohon keberkahan kepada Allah Swt. Selain itu, prosesi baayun maulid terdiri dari berbagai perlengkapan sebagai sebuah sarana pengungkapan rasa syukur secara simbolis.

Nah, untuk mengenal lebih dalam tradisi masyarakat Banjar ini, Anda dapat menyimak uraian singkatnya di bawah ini, ya.

Baca Juga: Tradisi Mandi 7 Bulanan Banjar: Perlengkapan & Kepercayaan

Sejarah tradisi baayun maulid

Sebelum mengenal prosesi dan perlengkapan yang dibutuhkan. Ada baiknya kita mengenal sejarah terbentuknya tradisi ini yang ada hingga sekarang.

Menyadur dari berbagai literatur, tradisi ini ada berdasar dua peristiwa, yaitu maayun anak dan bapalas bidan.

Maayun anak

Pada tradisi maayun anak, masyarakat setempat menempatkan kegiatan ini sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen serta lahirnya seorang anak.

Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, maayun anak bukan saja sebagai kegiatan untuk menidurkan anak. Tapi, sebagai upacara yang dimaksudkan untuk menghindarkan anak dari kapingitan (gejala kesurupan) dari roh para leluhur.

Sedangkan masyarakat suku Dayak menempatkan tradisi maayun anak sebagai salah satu rangkaian dalam Upacara Aruh Ganal.

Dalam Upacara Aruh Ganal, Balian (pemimpin adat Dayak) mengayun dan membacakan mantra kepada anak keturunan agar terhindar dari gangguan roh leluhur.

Bapalas Bidan

Kepercayaan masyarakat Banjar yang kedua terhadap sejarah tradisi baayun maulid ialah Upacara Bapalas Bidan.

Upacara Bapalas Bidan bagi masyarakat Banjar merupakan tradisi untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih orang tua anak kepada bidan. Karena bidan ialah seseorang yang telah berjasa dalam proses persalinan anak.

Sedangkan maksud dari upacara ini ialah sebagai upaya penebusan anak  atau balas jasa oleh orang tua kepada bidan yang telah membantunya.

Menurut masyarakat setempat, Ketika orang tua anak belum melaksanakan Upacara Bapalas Bidan, anak masih dikatakan sebagai anak bidan.

Barulah setelah masuknya Islam di kehidupan masyarakat, dua tradisi di atas mengandung nilai-nilai keagamaan, kemudian disebutlah tradisi baayun anak.

Demikian pula pelaksanaan acara baayun anak yang kemudian dilangsungkan setiap tanggal 12 Rabiul Awal atau bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Acaranya pun berlangsung dengan pembacaan syair-syair maulid, sholawat, dan doa untuk meminta keberkahan dan keselamatan.

Upacara yang rutin terlaksana setiap satu tahun sekali ini pun selalu ramai oleh peserta yang masih sebagai tutus (keturunan).

Baca Juga: Acara Tasmiyah Banjar: Susunan Acara dan Perlengkapan

Perlengkapan tradisi baayun maulid

Seperti acara keagamaan dan kebudayaan masyarakat adat Banjar lainnya. Pada tradisi baayun anak terdiri dari perlengkapan yang melambangkan sebuah makna filosofi.

Ayunan pikasih baranak

Pikasih baranak ialah ayunan tradisional masyarakat Banjar yang digunakan dalam tradisi baayun maulid.

Ayunan ini digunakan sebagai simbol kasih sayang dari orang tua terhadap anaknya, dan diharapkan kelak anaknya penuh dengan kelimpahan kasih.

Karena sebagai wadah untuk mengayun anak. Ayunan terbuat dari tiga lapisan kain tapih bahalai (kain sarung panjang). Kain ini lengkap dengan tiga buah kakamban (kerudung panjang berbentuk seperti selendang).

Untuk mempercantik tampilan dan menambah nilai filosofinya, ayunan pikasih baranak terdiri dari anyaman janur dengan bentuk sebagai berikut:

  1. hahalungan,
  2. rantai gagalang,
  3. patah kangkung,
  4. katupat guntur,
  5. papayungan, dan
  6. halilipan.

Piduduk

Pelengkap upacara baayun maulid selanjutnya yang sarat akan makna simbolik ialah piduduk.

Pasalnya, piduduk ialah simbol harapan agar kehidupan anak di masa depan nanti hidupnya berkecukupan.

Oleh karena itu, perlengkapan piduduk terdiri dari beras, kelapa, gula aren, telur, jarum dan benang, bumbu dapur, dan tangga manisan.

Nilai-nilai pendidikan sosial dalam budaya baayun maulid

Setelah mengenal sejarah dan makna simbolik pada perlengkapan tradisi baayun maulid. Pada tradisi ini pula terkandung nilai-nilai pendidikan sosial yang tinggi, yaitu.

  1. tolong menolong,
  2. kedermawanan,
  3. keikhlasan,
  4. optimisme, dan
  5. toleransi.

Baca Juga:

Adha Susanto
Adha Susanto

Dengan menulis belajar bahwa tidak ada seorang yang sempurna

Articles: 20